Rupiah Tembus Rp17.300 per Dolar AS, Tertekan Ketidakpastian Global
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan. Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah bahkan menembus level Rp17.300 per dolar AS.
Saat pembukaan pasar, rupiah tercatat melemah 0,23 persen ke posisi Rp17.249 per dolar AS, dibandingkan penutupan Rabu (22/4/2026) di level Rp17.221 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga pukul 10.33 WIB, ketika rupiah menyentuh Rp17.304 per dolar AS.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah akhirnya ditutup melemah lebih dalam sebesar 0,75 persen ke level Rp17.308 per dolar AS.
Pelemahan ini melampaui asumsi nilai tukar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan pemerintah terus memantau pergerakan nilai tukar. Ia menilai tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara sendiri, melainkan juga dialami mata uang negara lain di kawasan.
“Pergerakan ini dipengaruhi dinamika global, dan mata uang regional juga mengalami gejolak,” ujarnya di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Menurut Airlangga, faktor eksternal seperti ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah, menjadi penyebab utama pelemahan rupiah.
Hal senada disampaikan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti. Ia menyebut meningkatnya ketidakpastian global turut menekan mata uang di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.
Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi di berbagai pasar, baik offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), maupun di pasar domestik dan pasar obligasi negara.
“Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten dan terukur,” ujar Destry.
Ia juga menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia masih kuat, yakni sebesar 148,2 miliar dolar AS per akhir Maret 2026, sehingga menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, ketegangan antara AS dan Iran turut memberi tekanan pada rupiah. Dampaknya terlihat dari kenaikan harga minyak global, penguatan dolar AS, serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang memengaruhi arus modal ke negara berkembang.
Untuk meredam volatilitas, BI memperkuat bauran kebijakan dari sisi moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan ini tidak hanya diarahkan untuk menjaga stabilitas, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, BI meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik melalui penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing.
Dari sisi likuiditas, pertumbuhan uang primer (M0) dijaga di atas 10 persen. Pada Maret 2026, pertumbuhan M0 tercatat mencapai 11,8 persen secara tahunan.
Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap berada di kisaran 4,9–5,7 persen, dengan inflasi terkendali di level 1,5–3,5 persen. Defisit transaksi berjalan dijaga pada kisaran 0,5–1,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara pertumbuhan kredit ditargetkan mencapai 8–12 persen.
“Secara fundamental, rupiah memiliki peluang untuk stabil dan bahkan menguat, didukung oleh kondisi ekonomi domestik yang solid, inflasi rendah, serta imbal hasil yang kompetitif,” ujar Perry.
Di sisi lain, pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik akibat belum tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 23 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 23 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 13 jam yang lalu



