Perundingan AS-Iran Meredup, Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak
AS - Rencana perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran semakin meredup. Dampaknya langsung terasa di pasar energi global, di mana harga minyak dunia kembali melonjak setelah sebelumnya sempat stabil.
Putaran kedua perundingan yang direncanakan berlangsung di Pakistan batal terlaksana. Proposal perdamaian yang diajukan Iran tidak mendapat respons positif dari Presiden Donald Trump, yang menolak isi usulan tersebut.
Penolakan ini memicu kembali ketegangan di kawasan Timur Tengah. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu akibat kebijakan buka-tutup yang diterapkan Iran serta blokade yang dilakukan AS.
Kondisi tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak Brent kontrak terdekat naik menjadi 109,46 dolar AS per barel dari sebelumnya 108,23 dolar AS. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat ke level 97,38 dolar AS per barel, dari 96,37 dolar AS sehari sebelumnya.
Kenaikan ini memperpanjang tren reli tajam dalam sepekan terakhir. Harga Brent melonjak lebih dari 21 persen sejak 17 April, sementara WTI naik sekitar 16 persen dalam periode yang sama.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai lonjakan harga minyak berpotensi menekan ekonomi global. Ia memperkirakan sekitar 20 juta barel minyak mentah, bahan bakar, dan petrokimia per hari akan terdampak.
“Bahkan jika konflik berakhir segera, pemulihan ekonomi tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan,” ujarnya. Ia menambahkan, pemulihan mencakup pembersihan ranjau, penguraian kemacetan kapal tanker, hingga pemulihan produksi dan aktivitas kilang secara bertahap.
Senada, analis pasar dari City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menekankan bahwa perhatian utama saat ini tertuju pada kelancaran pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Ia memperingatkan bahwa meskipun kesepakatan damai tercapai, pemulihan pasokan tetap membutuhkan waktu panjang.
Pasar juga bereaksi cepat terhadap kebuntuan negosiasi. Data pelacakan kapal menunjukkan enam tanker minyak Iran berbalik arah akibat blokade AS. Sementara itu, hanya satu kapal LNG milik Abu Dhabi National Oil Company yang berhasil melintas menuju India, dengan kapasitas jalur yang sangat terbatas.
Sebelum konflik memanas pada 28 Februari lalu, sekitar 125–140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini, jumlahnya anjlok drastis menjadi sekitar delapan kapal per hari.
Upaya diplomasi sejauh ini belum membuahkan hasil. Putaran pertama perundingan di Islamabad yang berlangsung selama 21 jam berakhir tanpa kesepakatan. Meski sempat tercapai gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April 2026 dan diperpanjang, situasinya tetap rapuh.
Iran masih membatasi akses Selat Hormuz, sementara AS mempertahankan blokade dan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Trump bersama tim keamanan nasionalnya tengah mengkaji proposal Iran. Usulan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat AS menghentikan blokade dan mengakhiri konflik secara permanen.
Proposal yang disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memuat tiga tahap utama: penghentian perang oleh AS dan Israel, penyelesaian isu Selat Hormuz melalui mediator, serta kesiapan Iran untuk bernegosiasi terkait program nuklir dan isu regional lainnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai Iran menunjukkan keseriusan, namun menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan Teheran menguasai Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Vladimir Putin menyatakan dukungannya terhadap upaya penyelesaian konflik dan siap berperan sebagai mediator.
Meski demikian, Iran justru menilai mandeknya perundingan disebabkan oleh tuntutan AS yang dianggap terlalu berat, sehingga menghambat tercapainya kesepakatan damai.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Haji 2026 | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu


