TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

WNA Diisolasi di RSPI Sulianti Saroso, Kemenkes Pastikan Hantavirus Tak Mudah Menular

Reporter & Editor : AY
Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:33 WIB
Ilustrasi kasus hantavirus. Foto : Ist
Ilustrasi kasus hantavirus. Foto : Ist

JAKARTA - Pemerintah pantau ketat satu WNA terkait klaster kapal pesiar MV Hondius, masyarakat diminta tetap tenang dan menjaga kebersihan lingkungan.


Kasus hantavirus yang berkaitan dengan kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian serius pemerintah. Seorang warga negara asing (WNA) yang diduga sempat melakukan kontak erat dengan pasien positif hantavirus kini menjalani isolasi di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta Utara.


Meski demikian, pemerintah menegaskan masyarakat tidak perlu panik karena hantavirus tidak mudah menular antar manusia seperti Covid-19.


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, pemerintah menerima notifikasi dari Pemerintah Inggris pada 7 Mei 2026 mengenai seorang WNA yang sempat kontak erat dengan pasien positif hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Karena diketahui tinggal di Jakarta Pusat, petugas segera melakukan pelacakan.


Setelah berhasil diidentifikasi, WNA berinisial KE tersebut langsung dibawa ke RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso untuk menjalani pemeriksaan dan observasi.


“Hasil tes sementara menunjukkan negatif hantavirus. Namun pasien tetap dipantau hingga masa inkubasi selesai untuk memastikan kondisinya aman,” ujar Menkes, Jumat (15/5/2026).
Menurut Budi, pemantauan dilakukan selama dua pekan sejak 8 Mei 2026. Hingga kini, seluruh kontak erat yang telah diperiksa juga dinyatakan negatif.


Ia menegaskan, sebagian besar penularan hantavirus berasal dari tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi, bukan dari manusia ke manusia.
“Sekitar 99 persen penularan hantavirus berasal dari tikus, bukan antarmanusia,” tegasnya.


Menkes menjelaskan, jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan varian Asia dengan tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen. Angka itu jauh lebih rendah dibanding varian Andes di Amerika Selatan yang dapat menyerang paru-paru dengan tingkat fatalitas mencapai 50 hingga 60 persen.


Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah berkembangbiaknya tikus di rumah, tempat usaha, maupun area publik.
“Kalau ada yang terdeteksi, rumah sakit kita sudah memahami tata laksana penanganannya,” katanya.


Budi juga menilai pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 membuat sistem surveilans penyakit menular Indonesia kini jauh lebih sigap. Dukungan kerja sama internasional dinilai mempercepat deteksi potensi penyebaran penyakit dari luar negeri.
“Indonesia sekarang jauh lebih baik dalam pengawasan penyakit dan kerja sama internasional sejak pandemi Covid-19,” ujarnya.


Sementara itu, Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni mengatakan, kasus tersebut terdeteksi melalui laporan resmi International Health Regulation (IHR) National Focal Point Inggris pada 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB.


Dari hasil pemeriksaan, KE dilaporkan tidak mengalami gejala, meski memiliki komorbid hipertensi yang tidak terkontrol serta riwayat penggunaan rokok elektrik atau vaping.
“Namun berdasarkan hasil laboratorium, pasien dinyatakan negatif hantavirus,” kata Andi.


Pemantauan terhadap kontak erat pasien terus dilakukan oleh petugas Puskesmas Kecamatan Senen. Sesuai ketentuan WHO, seluruh kontak erat diwajibkan menjalani karantina dan pemantauan kesehatan harian.


“Kami menyarankan kontak erat bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) dan segera melapor jika muncul gejala,” ujarnya.


Kementerian Kesehatan juga mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan laporan WHO, terdapat tiga kematian dalam klaster hantavirus yang terkait kapal pesiar tersebut dengan tingkat fatalitas mencapai 27 persen.


Dalam laporan WHO bertajuk Hantavirus Cluster Linked to Cruise Ship Travel, Multi-country yang dirilis 13 Mei 2026, tercatat 11 kasus terkait kapal pesiar MV Hondius, termasuk tiga kematian. Delapan kasus telah terkonfirmasi Andes virus, dua masih probable, dan satu lainnya belum dapat dipastikan.


WHO menduga kasus pertama tertular sebelum penumpang naik kapal, kemungkinan saat berada di wilayah Argentina atau Chile yang memang menjadi daerah endemik hantavirus. Setelah itu diduga terjadi penularan terbatas antar manusia selama perjalanan kapal pesiar.


WHO menegaskan Andes virus merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antar manusia. Namun penularannya tetap terbatas dan umumnya terjadi melalui kontak dekat dalam waktu lama.


Lingkungan kapal pesiar dinilai meningkatkan risiko penyebaran karena penumpang berada di ruang tertutup dengan interaksi intensif dalam durasi panjang.


Meski begitu, WHO memastikan risiko penularan bagi masyarakat umum tetap rendah dan tidak semudah penyebaran Covid-19.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit