Utamakan Kesehatan, Jemaah Haji Diminta Tak Memaksakan Ibadah Arbain
NABAWI - Jemaah haji Indonesia, khususnya lanjut usia (lansia), diimbau untuk tidak memaksakan diri menjalankan ibadah Arbain di Masjid Nabawi. Kesehatan menjadi prioritas utama, mengingat jemaah harus mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji dalam waktu dekat.
Imbauan tersebut disampaikan Petugas Pembimbing Ibadah PPIH Arab Saudi Daerah Kerja Bandara, Anis Diyah Puspita, pada Minggu (26/4/2026). Ia menegaskan bahwa banyaknya jemaah lansia menjadi alasan penting untuk tidak memaksakan penyelesaian Arbain.
“Ibadah Arbain bukan termasuk rukun maupun wajib haji, sehingga tidak memengaruhi keabsahan ibadah haji,” ujar Anis.
Arbain merupakan pelaksanaan salat fardu berjamaah selama 40 waktu tanpa terputus di Masjid Nabawi. Meski memiliki keutamaan tersendiri, ibadah ini bukan bagian dari rangkaian utama haji.
Anis mengingatkan bahwa kondisi fisik jemaah harus tetap prima untuk menghadapi puncak haji, yakni wukuf di Arafah.
“Jangan sampai karena memaksakan Arbain, jemaah justru kelelahan atau sakit saat puncak haji. Prioritas utama adalah jemaah dapat melaksanakan wukuf dalam kondisi sehat,” tegasnya.
Petugas juga mengimbau jemaah untuk mengatur ritme ibadah. Jika kondisi tubuh tidak fit, jemaah disarankan beristirahat dan melaksanakan salat di hotel.
“Jika kondisi sehat, silakan beribadah di Masjid Nabawi. Namun jika lelah, sebaiknya beristirahat. Insyaallah tetap mendapatkan pahala,” tambahnya.
Di sisi lain, pelayanan penuh empati ditunjukkan para petugas haji di Bandara Madinah, khususnya dalam menangani jemaah lansia dan disabilitas.
Salah satunya dilakukan Dita Prihastika, petugas Tugas dan Fungsi (Tusi) Lansia dan Disabilitas. Ia mengaku kerap membantu jemaah yang tiba dalam kondisi lemah setelah perjalanan panjang, termasuk mengganti popok dan membersihkan najis.
“Kami melayani sepenuh hati, seperti merawat orang tua sendiri,” ujarnya di Terminal Haji Madinah.
Menurutnya, tidak sedikit jemaah lansia yang tiba dalam kondisi kelelahan, bahkan dengan popok yang sudah penuh akibat keterbatasan selama penerbangan. Setibanya di bandara, petugas langsung sigap memberikan bantuan.
“Kami bantu ke toilet, kami bersihkan. Kadang mereka merasa malu, tapi kami yakinkan bahwa ini bagian dari pelayanan,” tuturnya.
Bagi Dita, momen paling berkesan adalah doa tulus dari para jemaah setelah menerima bantuan. “Sering kali mereka mendoakan kami. Itu yang sangat menyentuh,” katanya.
Ia menegaskan, seluruh layanan diberikan secara tulus tanpa biaya tambahan.
“Kami tidak mengambil satu sen pun. Kami melayani dengan ikhlas, semoga bisa terus bermanfaat bagi banyak orang,” pungkasnya.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 4 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Selebritis | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu


