Dari Jual Daun Pisang Selama 18 Tahun, Mbah Painah Akhirnya Berhaji ke Tanah Suci
MAKKAH - Di tengah padatnya jemaah di Masjidil Haram, sosok Mbah Painah tampak seperti jemaah lainnya. Ia sederhana dalam penampilan, tidak banyak bicara, dan kerap tersenyum malu saat diajak berbincang.
Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah perjuangan panjang penuh ketekunan dan pengorbanan. Perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah ini akhirnya berhasil mewujudkan impian berhaji setelah menabung selama 18 tahun dari hasil berjualan daun pisang.
Perjalanan menuju Tanah Suci itu tidak dimulai dari ruang manasik atau bandara, melainkan dari pasar-pasar tradisional di kampung halamannya. Dari lembar demi lembar daun pisang yang ia jual setiap hari, sedikit demi sedikit ia menyisihkan rezeki untuk masa depan.
Selama lebih dari 35 tahun, Mbah Painah menjalani hidup sederhana sebagai pedagang daun pisang. Setiap hari, ia bangun sekitar pukul 01.30 dini hari untuk menyiapkan dagangan yang akan dibawa ke pasar pagi.
Usai berjualan, ia tidak langsung beristirahat lama. Pekerjaannya berlanjut dengan mengantarkan pesanan daun pisang ke pelanggan di berbagai desa sekitar.
Menariknya, semua itu ia lakukan tanpa kendaraan. Tidak ada motor atau mobil yang digunakan. Ia hanya mengandalkan langkah kaki.
“Saya jalan kaki saja,” ujarnya singkat.
Putranya yang mendampingi saat berhaji mengatakan bahwa sang ibu sudah terbiasa berjalan dari satu desa ke desa lain. Dalam sehari, ia bisa menempuh hingga lima desa untuk mengantar pesanan.
Daun pisang yang dijualnya menjadi kebutuhan banyak orang, mulai dari pedagang makanan, katering, hingga warga yang menggelar hajatan.
Kebiasaan berjalan kaki itu pula yang membuat keluarga tidak terlalu khawatir dengan kondisi fisiknya saat berangkat haji. Saat diminta berlatih berjalan, Mbah Painah justru menanggapinya dengan santai.
“Saya sudah cukup jalan-jalan untuk jualan,” katanya sambil tersenyum.
Di balik candaan sederhana itu, tersimpan perjalanan panjang penuh kerja keras. Bertahun-tahun ia menapaki jalan desa sambil memanggul dagangan, dengan satu tujuan besar: bisa berhaji ke Tanah Suci.
Impian itu diwujudkan dengan penuh kesabaran. Selama 18 tahun, ia rutin menyisihkan sebagian kecil hasil jualannya untuk ditabung, meski jumlahnya tidak besar.
“Kalau ada sisa, ya saya simpan,” ujarnya.
Ia bahkan tidak menabung dalam jumlah besar. Setiap bulan, ia hanya mampu menyisihkan sekitar Rp200 ribu, namun dilakukan secara konsisten.
Menariknya, niat berhaji awalnya datang dari sang suami. Mereka kemudian mendaftar bersama dan menunggu antrean keberangkatan selama bertahun-tahun.
Namun takdir berkata lain. Sang suami tidak dapat berangkat karena kondisi kesehatan akibat penyakit jantung. Hak keberangkatan kemudian dilimpahkan kepada anak mereka, hingga akhirnya Mbah Painah tetap bisa menunaikan ibadah haji.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu




