TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo
Dipastikan Presiden

Maaf, Beras Masih Harus Impor

Laporan: AY
Minggu, 19 Februari 2023 | 07:52 WIB
Presiden Jokowi saat berbincang dengan salah satu pedagang di Pasar Wonokromo, Surabaya. (Foto : Setpres)
Presiden Jokowi saat berbincang dengan salah satu pedagang di Pasar Wonokromo, Surabaya. (Foto : Setpres)

SURABAYA - Presiden Jokowi mengisi akhir pekan kemarin, dengan blusukan ke pasar tradisional, di Surabaya, Jawa Timur.

Kepala Negara ingin memastikan ketersediaan dan harga bahan pangan jelang Puasa dan Lebaran. Secara umum, Jokowi memastikan stok harga pangan mencukupi harganya pun stabil. Hanya saja khusus untuk beras, maaf masih harus impor. 

Jokowi tiba di Pasar Wonokromo, Surabaya, sekitar pukul 11.30 siang. Mantan Wali Kota Solo itu tampil dengan setelan khasnya, kemeja putih lengan panjang yang digulung sesiku dengan sepatu kets warna hitam. Tiba di lokasi, Jokowi disambut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. 

Bersama sejumlah menteri, Jokowi lalu berkeliling pasar selama 30 menit. Di sana, Jokowi berdialog dengan beberapa pedangan menanyakan soal harga beras dan minyak goreng yang sempat naik selama beberapa pekan terakhir. Jokowi juga menanyakan ketersediaan telur ayam dan beberapa bahan pokok lain. 

Selesai berkeliling, Jokowi tersenyum. Kata dia, secara umum harga bahan pangan seperti minyak goreng sudah turun. Harganya Rp 14 ribu per liter.

Stoknya pun cukup. Begitu juga dengan telur ayam dan bawang merah. Ketersediaan kedua bahan pangan itu cukup bahkan harganya turun meski tidak siginifikan. 

Jokowi berharap stabilitas harga pangan ini dipertahankan sehingga inflasi bisa dikendalikan. Jangan sampai seperti beras. Sebulan terakhir harganya naik di seluruh daerah sehingga mengerek inflasi. 

"Tapi sekarang sejak lima hari yang lalu karena operasi beras dari Bulog (harganya) sudah mulai turun, meskipun belum semua daerah,” kata Jokowi.

Menurut eks Gubernur DKI Jakarta ini, tujuannya blusukan juga untuk memastikan apakah beras dari Bulog sudah sampai ke pasar dan warung-warung.

"Saya lihat sudah dan harganya baik, tadi Rp 44.000 untuk 5 kilogram. Artinya, harga di bawah Rp 9.000. Tadi kita lihat semua warung ada semuanya dan melimpah di sini,” ujarnya. 

Jokowi melanjutkan, pada akhir Februari dan awal Maret sejumlah daerah sudah memulai panen raya. Dengan panen tersebut, ia berharap stok beras makin melimpah.

"Kalau stok melimpah permintaan tetap, artinya harga akan secara otomatis akan turun,” kata Jokowi.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menjelaskan kenapa pemerintah memutuskan untuk impor beras.

"(Soal impor beras) tanya ke Bulog, secara nasional kita butuh. Karena, stoknya dari Bulog tipis," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, stok di Bulog minimal 1,2 juta ton. Sementara kemarin ada di level 600 ribu ton. Artinya masih kurang.

:Jadi, mau tidak mau harus (impor)," ujarnya.

"Ya harus lihat stoknya, kalau kurang harus ditambah, kalau tidak harga naik," imbuhnya. 

Sebagai informasi Perum Bulog mendapatkan penugasan impor beras sebanyak 500 ribu ton sejak Desember 2022 lalu. Beras impor tersebut didatangkan dari Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Pakistan.

Beras impor itu didatangkan untuk memenuhi kebutuhan cadangan beras pemerintah (CBP). CBP adalah persediaan beras yang dikuasai dan dikelola oleh Pemerintah pada Bulog dengan arah penggunaan untuk penanggulangan keadaan darurat bencana dan kerawanan pangan pasca bencana.

Sehari sebelumnya, Jokowi memanggil Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ke Istana. 

Syahrul menyampaikan kedatangannya untuk melaporkan stok komoditas pangan menjelang tren peningkatan permintaan pada momen Ramadhan dan Lebaran 2023.

"Sejauh ini, dalam hitungan neraca kita, semua (komoditas pangan) aman," kata  Syahrul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat lalu. 

Terkait beras, Syahrul juga melaporkan bahwa seluruh daerah produksi sudah memasuki panen raya pada Februari, Maret, dan April 2023.

Untuk Februari, ada satu juta hektare lahan padi yang memasuki panen, disusul Maret 2023, terdapat 1,9 juta hektare lahan akan memasuki panen.

Menurut dia, pada Maret hingga April 2023, di berbagai daerah akan memasuki puncak panen.

Syahrul mengatakan produksi beras pada puncak panen akan mencapai sedikitnya 5,9 juta ton.

Sementara, Sekretaris Perusahaan Bulog, Awaluddin Iqbal mengatakan, pihaknya mendapat penugasan impor sebanyak 500 ribu ton sejak Desember lalu.

Beras impor tersebut didatangkan dari Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Pakistan. Saat ini yang telah masuk gudang Bulog mencapai 470 ribu ton. Artinya masih tersisa sekitar 30 ribu ton lagi.

Menurut dia, 30 ribu ton ini masih belum masuk karena terkendala cuaca. Cuaca buruk memang sangat mempengaruhi masuknya barang impor.

Jika bongkar muat dilakukan saat cuaca buruk, pengaruhnya akan merusak beras impor.

Serap Beras Petani

Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Demokrat, Suhardi Duka menyayangkan, Bulog kurang maksimal menyerap gabah petani. Bulog harusnya mampu membaca situasi dan harga pasar.

Saat panen harganya mencapai Rp 9.500 sampai dengan Rp 10.000, tapi Bulog tetap memaksakan melakukan pembelian pada harga Rp 8.200. Dengan harga tersebut maka dapat dipastikan tak ada petani atau penggiling padi yang mau menjual padi. Saat itu harga transportasi memang naik. 

Pengamat Center of Economic and Law Studies (Celios), Muhammad Andri Perdana juga sependapat.

Dia menyayangkan, Bulog tak mampu mengelola tataniaga beras dan menyerap beras petani. 

“Bulog tahun kemarin penyerapannya sangat rendah. Padahal, menurut data BPS dan Kementan, harusnya produksi dalam negeri kita sudah cukup, bahkan surplus. Tapi nyatanya Bulog kesulitan untuk menyerap stok CBP yang akhirnya memaksa kita untuk impor beras,” kata Andri. rm.id

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo