Ketua Dewan Pers Nostalgia Masa Koran Jadi Pusat Wacana Publik dan Intelektual
JAKARTA – Ketua Dewan Pers, Prof. Komarudin Hidayat, mengenang masa ketika surat kabar menjadi poros utama arus informasi sekaligus ruang pembentukan gagasan sosial dan intelektual di Indonesia. Ia menilai, pada periode awal perkembangan pers nasional, koran bukan sekadar penyampai berita, tetapi juga pengarah diskursus publik.
Kenangan itu ia tarik dari pengalamannya sebagai mahasiswa UIN Jakarta pada 1974. Saat itu, menurut Komarudin, koran memiliki posisi yang sangat istimewa dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan mahasiswa dan aktivis.
“Saya masih ingat, waktu tinggal di sekretariat HMI, pagi hari yang ditunggu-tunggu itu kedatangan koran. Di satu kompleks, orang-orang menanti. Begitu koran tiba, langsung jadi rebutan,” ujarnya dalam acara Outlook Media 2026 di Kantor Dewan Pers, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, pada masa tersebut surat kabar berfungsi sebagai sumber utama referensi pemikiran. Media cetak berperan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat—mulai dari mahasiswa, kalangan intelektual, hingga pejabat pemerintah.
Komarudin bahkan mengaku rutin mengumpulkan kliping koran dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Baginya, banyak gagasan penting yang justru ditemukan di media massa, bukan di ruang kuliah.
“Tulisan opini dan laporan di koran seperti Rakyat Merdeka, Kompas, dan lainnya memuat refleksi pemikiran yang tidak saya peroleh di kelas atau buku teks,” katanya.
Menurut dia, pada era Orde Baru, arus informasi masih sangat terpusat. Media arus utama menjadi rujukan utama publik. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pers pun tinggi karena isi pemberitaan dianggap akurat, objektif, dan menawarkan arah pemikiran.
Selain itu, Komarudin menyoroti ketatnya proses seleksi di ruang redaksi media cetak saat itu. Tidak semua orang bisa dengan mudah menembus halaman opini.
“Saya pernah bertanya ke redaksi, apa syarat menulis di koran. Mereka menyebut harus ada riwayat hidup, latar pendidikan jelas, reputasi, bahkan karakter penulis ikut dipertimbangkan.
Seleksinya sangat ketat,” tuturnya.
Karena standar tersebut, publikasi tulisan di surat kabar menjadi prestise tersendiri bagi kalangan akademisi dan intelektual.
“Kalau ada ilmuwan tulisannya dimuat di koran, itu kebanggaan besar. Biasanya ditunjukkan ke teman-temannya. Kepercayaan kepada media massa waktu itu memang sangat tinggi,” pungkas Komarudin.
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Galeri | 1 hari yang lalu


