Otomotif Masih Jadi Motor Pertumbuhan Manufaktur Nasional
JAKARTA – Sektor otomotif tetap menjadi salah satu penggerak utama industri manufaktur nasional yang menunjukkan tren positif sepanjang 2025.
Kinerja subsektor ini berkontribusi besar terhadap pertumbuhan industri pengolahan nonmigas (IPNM) yang tercatat melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IPNM sepanjang triwulan I–III 2025 tumbuh 5,17 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,01 persen.
“Capaian ini tidak terlepas dari kontribusi signifikan sektor otomotif sebagai salah satu motor penggerak industri nasional,” ujar Agus saat membuka Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
BPS mencatat nilai tambah IPNM atas dasar harga konstan meningkat Rp 92,16 triliun, dari Rp 1.783,17 triliun pada 2024 menjadi Rp 1.875,33 triliun pada 2025. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada triwulan I–III 2025 mencapai 17,27 persen atau setara Rp 3.051,58 triliun atas dasar harga berlaku.
Dari sisi kapasitas, industri kendaraan bermotor roda empat didukung 41 pabrikan dengan kapasitas produksi mencapai 2,59 juta unit per tahun. Sementara industri kendaraan roda dua dan tiga memiliki 82 pabrikan dengan kapasitas hingga 11,2 juta unit per tahun.
Selain produksi, sektor otomotif juga berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja dan investasi. Hingga 2025, industri ini menyerap sekitar 99.700 tenaga kerja langsung dengan total investasi mencapai Rp 194,22 triliun, yang memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional.
Di perdagangan internasional, manufaktur nonmigas tetap menjadi tulang punggung ekspor. Sepanjang 2025, nilai ekspor IPNM mencapai 227,10 miliar dolar AS atau 80,27 persen dari total ekspor nasional, mencerminkan daya saing industri berbasis manufaktur, termasuk otomotif.
Meski demikian, pasar domestik masih menghadapi tantangan. Sepanjang 2025, penjualan kendaraan bermotor secara wholesales tercatat 803.687 unit, turun 7,2 persen dibandingkan 2024. Namun, ekspor kendaraan utuh (completely built up/CBU) justru meningkat 9,7 persen menjadi 518.212 unit, sehingga menopang keberlanjutan produksi dalam negeri.
Agus menilai, pergeseran permintaan menuju kendaraan ramah lingkungan membuka peluang baru. Pada 2025, penjualan kendaraan elektrifikasi mencapai 175.144 unit atau sekitar 21,8 persen dari total penjualan nasional, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
“Perkembangan kendaraan listrik menunjukkan arah transformasi industri otomotif Indonesia yang semakin kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Untuk memperkuat peran otomotif sebagai motor pertumbuhan manufaktur, pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan industri baterai nasional melalui insentif fiskal, penyesuaian tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta penguatan investasi dari hulu hingga hilir.
Dengan dukungan kebijakan tersebut, Kementerian Perindustrian optimistis sektor otomotif akan tetap menjadi pilar utama pertumbuhan industri manufaktur nasional serta memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia ke depan.
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu


