TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Keselamatan Pelajar Dipertaruhkan Di Jembatan Citaman Jiput

Ambruk Berjalan 1 Tahun Lebih Tak Kunjung Diperhatikan

Reporter: Nipal
Editor: Redaksi
Kamis, 12 Februari 2026 | 09:00 WIB
MEMBAHAYAKAN. Kondisi jembatan sementara terbuat dari kayu dan bambu, di Kampung Sarewu-Pasirsalinten, Desa Citaman, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, terlihat rapuh dan sangat membahayakan keselamatan.
MEMBAHAYAKAN. Kondisi jembatan sementara terbuat dari kayu dan bambu, di Kampung Sarewu-Pasirsalinten, Desa Citaman, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, terlihat rapuh dan sangat membahayakan keselamatan.

PANDEGLANG - Sudah berjalan 1 tahun 2 bulan jembatan di Kampung Sarewu-Pasirsalinten, Desa Citaman, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, mengalami ambruk total. Namun hingga saat ini tak kunjung ada perhatian dari pemerintah baik Kabupaten maupun Provinsi untuk membangunkan jembatan baru.

 

Padahal jembatan itu penghubung sangat vital, karena satu-satunya akses warga dan pelajar melakukan aktivitas sehari-hari. Akibat pembiaran tersebut, warga membangun jembatan darurat dari kayu dan bambu yang jauh dari standar keselamatan. 

 

Setiap hari puluhan anak sekolah dan warga tetap dipaksa melintas mempertaruhkan nyawa demi hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan. Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan wakil rakyat, terkesan menutup mata atas kondisi tersebut.

 

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Citaman, Ade Mahroji membenarkan, kondisi jembatan ambruk total di wilayahnya terjadi pada 2024 lalu. “Ini bukan rusak baru kemarin, sudah lebih dari satu tahun longsor, dan hingga saat ini dibiarkan,” ungkap Ade saat dikonfirmasi via WhatsApp (WA), Rabu (11/2).

 

Akibat pembiaran dari pemerintah, warga beserta para pelajar mempertaruhkan nyawanya melintasi jembatan sementara yang sudah rapuh agar tetap bisa beraktivitas.

 

“Warga dan anak-anak sekolah lewat jembatan kayu dan bambu setiap hari, mereka bertaruh nyawa agar bisa beraktivitas. Kalau sampai ada korban, siapa yang bertanggung jawab? Jangan pura-pura tidak tahu, apalagi jembatan sementaranya kini sudah rapuh lagi” keluhnya.

 

Maka dari itu dia mendesak, pemerintah dengan Anggota DPRD Kabupaten dan Provinsi agar segera turun tangan menyelamatkan warga dan anak-anak sekolah dengan mewujudkan pembangunan jembatan permanen.

 

“Kami minta anggota DPRD Kabupaten Pandeglang, DPRD Provinsi Banten, serta Pemkab dan Pemprov Banten turun ke lapangan. Jangan cuma datang saat kampanye, rakyat tidak butuh janji, tapi butuh jembatan yang aman dan nyaman,” harapannya.

 

Dalam waktu dekat pembangunan jembatan swadaya akan segera dimulai oleh warga Desa Citaman. Menurut Ade, swadaya masyarakat bukan prestasi, melainkan bukti telanjang kegagalan negara menjalankan kewajiban dasar.

 

“Kalau rakyat kecil harus bangun jembatan sendiri supaya anaknya bisa sekolah, berarti ada yang salah dalam pengelolaan anggaran dan prioritas pembangunan. Jangan tunggu korban dulu baru bergerak,” pungkasnya.

 

Terpisah, Camat Jiput, Ade Juliansah membenarkan, jembatan di Desa Citaman mengalami ambruk total pada tahun 2024 lalu. “Ya benar, jembatan dengan ketinggian 8 meter, panjang 12 meter dan lebar 4 meter itu ambruk pada tahun 2024 lalu, berjalan sekitar satu tahun dua bulan,” jelasnya.

 

Dari awal ambruk total, hingga saat ini jembatan yang menghubungkan beberapa kampung itu, tengah dibangun jembatan sementara berbahan kayu dan bambu dari hasil swadaya masyarakat.

 

“Jembatan tersebut akses terdekat bagi masyarakat dan anak-anak menuju ke sekolah. Makanya, sudah tiga kali masyarakat membangun secara swadaya agar tetap bisa melintas jalur tersebut,” ungkapnya.

 

Kata Camat, dia sudah beberapa kali mengajukan agar jembatan tersebut dibangun. Namun, upayanya belum membuahkan hasil. Kendati demikian, sudah ada dua kali dari pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pandeglang ke lokasi.

 

“Alhamdulillah, dari tim DPUPR Kabupaten sudah dua kali datang ke lokasi pada bulan Desember 2024, dan pada bulan Oktober 2025 dengan tim konsultan. Mudah-mudahan sudah ada perencanaanya,” tandasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit