TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Menelusuri Asal-usul dan Tradisi Perayaan Hari Valentine

Reporter: Farhan
Editor: AY selected
Kamis, 12 Februari 2026 | 10:43 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

SERPONG – Hari Valentine atau yang dikenal sebagai Hari Kasih Sayang diperingati setiap 14 Februari. Meski populer di berbagai belahan dunia, tidak sedikit orang yang belum memahami secara utuh makna dan sejarah di balik perayaan ini.

 

Secara umum, Valentine menjadi momen untuk menyampaikan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Tradisi ini identik dengan pemberian cokelat, bunga, serta kartu ucapan. Namun, maknanya tidak berhenti pada sekadar bertukar hadiah.

Lebih dari itu, Hari Valentine dimaknai sebagai kesempatan untuk mempererat hubungan emosional dan menunjukkan penghargaan terhadap orang-orang yang memiliki arti penting dalam kehidupan.

 

Seiring waktu, perayaan ini berkembang menjadi fenomena budaya yang juga memiliki sisi komersial kuat. Restoran menawarkan paket makan malam romantis, toko-toko dihiasi ornamen hati dan warna merah muda, serta berbagai promo khusus digelar untuk menyambut momen tersebut.

 

Makna Hari Valentine

 

Valentine bukan hanya tentang hubungan romantis antara pasangan. Dalam perkembangannya, hari ini juga dimanfaatkan untuk mengekspresikan kasih sayang kepada keluarga, sahabat, bahkan rekan kerja. Sebagian orang memilih merayakannya dengan melakukan aksi sosial atau berbagi kebaikan kepada sesama.

 

Simbol-simbol yang lekat dengan Valentine antara lain bentuk hati, bunga mawar merah, burung merpati, serta sosok Cupid—figur anak kecil bersayap dengan busur dan panah yang melambangkan cinta. Semua simbol ini memperkuat citra Valentine sebagai hari penuh kehangatan dan perasaan tulus.

 

Sejarah dan Asal-usulnya

 

Sejarah Hari Valentine memiliki latar belakang panjang yang memadukan unsur tradisi Romawi kuno dan kisah para martir Kristen. Salah satu teori paling dikenal mengaitkan perayaan ini dengan Santo Valentinus.

 

Tercatat ada beberapa tokoh bernama Valentinus dalam sejarah Kekristenan awal. Dua di antaranya yang dihormati setiap 14 Februari adalah Valentinus dari Roma dan Valentinus dari Terni. 

 

Keduanya diyakini hidup pada abad ke-3 dan wafat sebagai martir.

Legenda yang berkembang menyebutkan bahwa salah satu Santo Valentinus dihukum mati karena menentang larangan Kaisar Claudius II yang melarang prajurit muda menikah.

Sang kaisar meyakini bahwa pria lajang lebih fokus menjadi tentara dibanding mereka yang telah berkeluarga. Namun, Valentinus tetap menikahkan pasangan muda secara diam-diam. Atas tindakannya tersebut, ia kemudian dijatuhi hukuman mati.

 

Selain kisah tersebut, sebagian sejarawan juga mengaitkan Valentine dengan festival Romawi kuno bernama Lupercalia, yang dirayakan pada pertengahan Februari sebagai simbol kesuburan dan penyucian. Seiring penyebaran agama Kristen, unsur-unsur tradisi ini perlahan berasimilasi dan membentuk perayaan yang kini dikenal sebagai Hari Valentine.

 

Pada abad pertengahan, terutama di Inggris dan Prancis, 14 Februari dipercaya sebagai awal musim kawin burung. Kepercayaan ini turut memperkuat asosiasi hari tersebut dengan cinta dan romansa. Puisi-puisi karya sastrawan seperti Geoffrey Chaucer semakin mempopulerkan Valentine sebagai hari untuk menyatakan perasaan kasih.

 

Perayaan di Berbagai Negara

Di era modern, perayaan Valentine memiliki ragam tradisi di setiap negara. Di Jepang, misalnya, perempuan biasanya memberikan cokelat kepada pria pada 14 Februari, sementara pria membalasnya sebulan kemudian pada White Day, 14 Maret. Di beberapa negara Barat, pasangan merayakan dengan makan malam romantis atau bertukar hadiah spesial.

 

Meski sering dikaitkan dengan hubungan asmara, esensi Valentine sejatinya adalah tentang menyebarkan kasih sayang dalam berbagai bentuk. Momen ini menjadi pengingat bahwa cinta tidak hanya diwujudkan lewat kata-kata, tetapi juga melalui perhatian, waktu, dan kepedulian terhadap sesama.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit