Saling Ancam Serangan Mematikan, Perang AS–Israel vs Iran Kian Mencekam
IRAN – Eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin mengkhawatirkan. Kedua kubu terus meningkatkan intensitas serangan menggunakan rudal, drone, dan bom yang menyasar berbagai target strategis.
Meski korban jiwa terus bertambah dan kerusakan infrastruktur meluas, masing-masing pihak tetap saling melontarkan ancaman akan melancarkan serangan yang lebih mematikan.
Konflik yang pecah pada akhir Februari tersebut hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pasukan AS bersama Israel terus menggempur sejumlah fasilitas militer Iran. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan rudal dan drone yang diarahkan ke wilayah Israel serta pangkalan sekutu AS di kawasan Teluk.
Menghadapi perlawanan sengit dari Iran, Presiden AS Donald Trump bereaksi keras. Ia menuntut Teheran menyerah tanpa syarat dan memperingatkan bahwa serangan militer akan semakin diperbesar jika Iran tetap melawan.
Sebaliknya, pemerintah Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan tersebut. Teheran bahkan memperingatkan bahwa setiap serangan baru dari Washington dan Tel Aviv akan dibalas dengan tindakan yang “lebih menghancurkan”.
Melalui platform media sosial Truth Social pada Sabtu (7/3/2026), Trump mengklaim Iran telah menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan lagi melancarkan serangan terhadap mereka.
“Iran yang saat ini terus dihantam telah meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan lagi menembaki mereka,” tulis Trump dalam unggahannya.
Trump juga menyebut situasi tersebut sebagai momen yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan menyatakan Iran untuk pertama kalinya “kalah” dari negara-negara di kawasan tersebut.
Ia menilai tekanan militer dari AS dan Israel telah melemahkan posisi Iran di Timur Tengah. Meski demikian, Trump menegaskan operasi militer tidak akan dihentikan dalam waktu dekat.
Ia bahkan memberi sinyal bahwa serangan yang lebih besar sedang dipertimbangkan. Menurutnya, target yang sebelumnya tidak masuk daftar sasaran kini mulai dipertimbangkan untuk dihancurkan.
Trump juga menegaskan bahwa peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi hampir tidak ada. Ia menegaskan konflik hanya akan berakhir jika Iran menerima tuntutan menyerah tanpa syarat.
Pernyataan tersebut langsung ditolak oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Sabtu (7/3/2026), Pezeshkian menyebut tuntutan tersebut tidak masuk akal.
“Permintaan mereka agar Iran menyerah tanpa syarat hanyalah mimpi yang tidak akan pernah terwujud,” tegasnya, seperti dikutip dari Associated Press.
Meski menolak ultimatum tersebut, Pezeshkian secara mengejutkan menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang sempat menjadi sasaran serangan rudal Iran dalam beberapa hari terakhir.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, ia menyebut dewan kepemimpinan sementara Iran telah memutuskan untuk menghentikan serangan ke negara-negara tetangga.
Namun kebijakan itu hanya berlaku selama wilayah negara-negara tersebut tidak digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap Iran.
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Internasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 22 jam yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu



