Kemarau Ekstrem Ancam Indonesia, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Tetap Aman
JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena “Godzilla” El Niño, yakni musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Meski demikian, Badan Pangan Nasional memastikan ketersediaan bahan pokok nasional tetap dalam kondisi aman.
Fenomena ini diperkirakan terjadi akibat kombinasi El Niño kuat dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berlangsung mulai April hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia.
“‘Godzilla’ El Niño + IOD positif mungkin terdengar menarik, namun dampaknya cukup serius. Musim kemarau bisa menjadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan semakin jarang turun,” tulis BRIN dalam pernyataan resminya.
Namun, dampak dari fenomena ini tidak akan merata. Sejumlah wilayah diprediksi mengalami kekeringan, sementara beberapa daerah lain, terutama di bagian timur laut Indonesia, justru berpotensi mengalami peningkatan curah hujan hingga risiko banjir.
Sebagai langkah antisipasi, Bapanas memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah strategis.
“Kami memastikan cadangan pangan terus diperkuat agar dapat segera disalurkan saat dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data terbaru, stok pangan nasional berada pada level yang memadai. Beras menjadi komoditas dengan jumlah cadangan terbesar, yang dikelola oleh Perum Bulog dan ID FOOD.
Stok beras CPP saat ini mencapai 4,08 juta ton, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,29 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,24 juta ton merupakan hasil penyerapan produksi dalam negeri sepanjang 2026.
Selain beras, cadangan jagung tercatat sekitar 144 ribu ton, dengan realisasi penyerapan mencapai lebih dari 100 ribu ton. Indonesia sendiri telah menghentikan impor jagung pakan sejak 2025, menandakan peningkatan kemandirian produksi.
Untuk komoditas lain, stok minyak goreng mencapai sekitar 95 ribu kiloliter, gula konsumsi 50 ribu ton, serta daging sapi/kerbau sekitar 11 ribu ton. Sementara itu, stok daging ayam dan telur ayam juga tersedia meskipun dalam jumlah lebih terbatas.
Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan nasional menjadi prioritas utama pemerintah, sejalan dengan visi swasembada pangan.
“Di tengah ancaman krisis pangan global, setiap negara harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Indonesia tidak boleh bergantung pada pihak lain,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi dalam negeri menjadi kunci utama menjaga stabilitas pangan dan melindungi masyarakat dari gejolak global.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemerintah juga terus menyalurkan bantuan pangan melalui berbagai program intervensi. Hingga 25 Maret 2026, penyaluran bantuan telah menjangkau lebih dari 378 ribu penerima di 24 provinsi.
Dengan langkah antisipatif yang telah disiapkan, pemerintah optimistis mampu menghadapi potensi dampak kemarau ekstrem tanpa mengganggu ketahanan pangan nasiona
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu




