TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Cuaca Jakarta Hari Ini Berawan hingga Malam, BMKG Ingatkan Potensi Kemarau Lebih Kering

Reporter: Farhan
Editor: AY
Senin, 27 April 2026 | 06:29 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan cuaca di wilayah Jakarta pada Senin (27/4/2026) didominasi kondisi berawan sejak siang hingga malam hari.


Pada pagi hari, seluruh wilayah Jakarta diprediksi cerah, kecuali Kepulauan Seribu yang mengalami cerah berawan. Suhu udara berkisar antara 28–31 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan 65–79 persen. Kecepatan angin relatif rendah, yakni sekitar 0,4–3,2 km/jam.


Memasuki siang hari, sebagian besar wilayah Jakarta akan berawan. Namun, Jakarta Utara diperkirakan cerah berawan, sementara Kepulauan Seribu tetap cerah. Suhu rata-rata berada di kisaran 28–30 derajat Celsius dengan kelembapan 68–80 persen. Angin bertiup lebih kencang, mencapai 4,1–12,4 km/jam.


Pada sore hari, kondisi berawan masih menyelimuti seluruh wilayah Jakarta. Suhu udara diperkirakan 28–29 derajat Celsius dengan kelembapan 74–79 persen dan kecepatan angin 1,7–7,8 km/jam.


Sementara itu, pada malam hari cuaca tetap berawan dengan suhu berkisar 26–30 derajat Celsius. Kelembapan udara meningkat menjadi 74–89 persen, dengan kecepatan angin antara 2,2–10,4 km/jam.


Memasuki Selasa dini hari (28/4/2026), cuaca Jakarta diprakirakan cerah berawan. Jakarta Pusat dan Jakarta Barat berpotensi cerah, sedangkan Kepulauan Seribu diperkirakan mengalami hujan ringan. Suhu berada di kisaran 25–27 derajat Celsius dengan kelembapan 84–94 persen dan kecepatan angin 2,8–7,1 km/jam.


Di sisi lain, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menggandeng Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis sains.


Kerja sama ini mencakup integrasi data meteorologi, klimatologi, dan kehutanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga pelaksanaan modifikasi cuaca serta analisis risiko berbasis ilmiah.


Raja menyebut tahun ini menjadi fase pembelajaran untuk mengantisipasi potensi peningkatan karhutla. Berdasarkan data BMKG, fenomena El Nino diperkirakan muncul lebih cepat pada semester kedua 2026, yakni sekitar Juni–Juli, dengan intensitas lemah hingga moderat.


Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan cenderung lebih kering dibanding tahun sebelumnya.


“Ini adalah tahun kita belajar untuk mengantisipasi apa yang akan kita hadapi. Kemarau diprediksi datang lebih cepat dan berakhir lebih lambat,” ujar Raja.


Ia menambahkan, potensi El Nino tersebut dapat meningkatkan risiko karhutla. Meski demikian, tren luas kebakaran menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir, dari sekitar 2,6 juta hektare pada 2015 menjadi 350 ribu hektare pada tahun lalu.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit