TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo

Ekonomi Global Mendung, Sri Mulyani Siapin Payung

Oleh: BCG/AY
Jumat, 29 Juli 2022 | 10:15 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Ist)
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Ist)

JAKARTA - Kondisi ekonomi global saat ini, sedang kurang baik. Ibarat cuaca, ekonomi di dunia sudah mendung tebal, tinggal tunggu hujan badai. Situasi seperti ini, tentunya membawa dampak tidak baik bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Untuk mengantisipasinya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani memilih siapkan payung, sebelum hujan beneran turun.

Ada beberapa faktor yang membuat ekonomi global tahun ini dan tahun depan, diprediksi suram dan berada dalam ketidakpastian. Mulai dari perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai, tingginya inflasi, pelambatan ekonomi di Amerika Serikat dan China, hingga rencana Bank Sentral AS (The Fed) yang akan kembali mengerek suku bunga.

Lembaga Moneter Dunia atau Interntional Monetary Found (IMF) bahkan sampai memangkas target pertumbuhan dunia 2022 menjadi 3,2 persen. Angka ini turun 0,4 persen dari proyeksi IMF pada April 2022.

Bila guncangan masih terus terjadi, maka ekonomi dunia akan kembali mengalami pelambatan di tahun 2023. IMF memprediksi, pertumbuhan ekonomi dunia hanya 2,9 persen, menyusut 0,7 persen. Ini merupakan pertumbuhan ekonomi dunia terendah sejak 1970.

Ketidakpastian ekonomi global itu, membuat Sri Mul cukup khawatir. Saat ini, memang ekonomi Indonesia masih cukup baik, dibanding banyak negara di dunia. Namun, guncangan yang ada, seperti inflasi, tentunya akan memukul pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

“Ini yang harus kita waspadai karena bisa memengaruhi perekonomian Indonesia,” kata Sri Mulyani, saat menyampaikan APBN KiTA secara virtual Rabu (27/7) sore.

Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, sinyal pelemahan ekonomi global ini sudah terlihat dari kinerja sektor manufaktur yang mulai lesu. Kini, Indikator Purchasing Managers Index (PMI) di banyak negara yang sebelumnya menguat, kondisinya terus menurun.

Terkait proyeksi IMF soal ekonomi dunia, Sri Mul bilang, angka itu berpotensi berubah lagi. Bahkan bisa lebih anjlok lagi, bila semester kedua ini terjadi tren pemburukan, terutama di sisi inflasi.

Apakah berbahaya bagi Indonesia? Untunglah ekonomi Indonesia masih tahan banting. Ekonomi Indonesia diprediksi masih tumbuh 5,4 persen atau terkoreksi 0,1 persen, dan tahun depan 5,2 persen. Meskipun proyeksi terlihat baik, Sri Mul mengingatkan tidak boleh terlena dan Indonesia harus tetap waspada.

Selain inflasi tinggi, lanjut Sri Mul, risiko resesi tak lepas dari rencanaThe Fed yang akan kembali mengerek suku bunga acuan. Kata Sri Mul, setiap kali AS menaikkan suku bunga apalagi secara sangat agresif, biasanya diikuti oleh krisis keuangan dari negara-negara berkembang.

Terkait APBN, Sri Mul memastikan kondisi kas negara masih cukup stabil. Terbukti, kinerja APBN hingga bulan Juni 2022 kembali mencatatkan surplus. Hal ini dipicu kinerja pendapatan yang tumbuh di semua komponen. Ia berjanji akan terus menjaga kesehatan APBN dari guncangan-guncangan yang makin kuat dari luar negeri.

“Kita harus membuat agar APBN kita tetap sehat, sehingga dia bisa melindungi masyarakat dan perekonomian kita,” ujarnya.

Dalam hal mengantisipasi dampak resiko global, Sri Mul mengatakan, APBN tetap hadir sebagai Shock Absorber. Belanja Negara diarahkan untuk penyaluran berbagai bansos dan subsidi, pendanaan proyek strategis nasional, serta program-program pemulihan ekonomi, termasuk transfer ke daerah.

Ekonom senior dari Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini mengingatkan, pemerintah harus mewaspadai betul gejolak ekonomi global. Kata dia, perang Rusia vs Ukraina mengakibatkan kenaikan harga-harga energi dan komoditas pangan dunia. Akibatnya, bukan hanya berdampak pada ekonomi, tapi juga politik. Presiden Sri Lanka dan Pakistan terguling. Situasi politik di Haiti juga sudah di ujung tanduk.

Rektor Universitas Paramadina ini juga mengingatkan, Indonesia jangan sampai seperti Sri Lanka. Karena itu, ia berharap Pemerintah dan swasta perlu mengekplorasi semua kemungkinan resource base industry agar bisa menjadi peluang yang bisa mengkompensasi kerugian-kerugian akibat tekanan ekonomi global.

“Indonesia tidak seharusnya bernasib sama dengan Sri Lanka. Indonesia punya banyak sekali sumber daya dan tidak seharusnya krisis, tinggal bagaimana mengelola potensi SDA yang banyak tersebut,” kata Didik dalam keterangan tertulis, kemarin.

Menurut dia, guncangan ekonomi global saat ini tidak terlalu berdampak karena Indonesia diuntungkan dengan kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit yang naik pesat, sehingga ekspor melonjak hampir 50 persen. Kenaikan harga komoditas itu menyumbang sekitar Rp 300 triliun untuk APBN.

Namun di sisi lain, kata Didik, kenaikan harga energi gas dan minyak bumi menyebabkan APBN kewalahan. Subsidi pemerintah telah mencapai Rp 500 triliun. Hal ini, menurutnya, sebagai pemborosan karena subsidi tidak diperuntukkan bagi orang miskin.

“Itu adalah tantangan kebijakan Jokowi untuk menyiasati gelombang yang datang. Berkah dana sawit dan batu bara tentu tidak selamanya, dalam 1-2 tahun akan habis, akan meninggalkan bom waktu bagi presiden berikutnya,” kata Didik.

Menurut Didik, titik kritis ekonomi Indonesia saat ini terletak pada defisit neraca perdagangan, meski dalam 1-2 tahun terakhir ini positif. Impor lebih besar dari ekspor. Seharusnya kondisi ini bisa diatasi dengan modal masuk dari luar negeri.

“Jika neraca tetap seperti itu, maka rupiah selalu tertekan dan sulit menjadi kuat,” pungkasnya. (rm.id)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo