Jelang Muktamar Ke-35, Idrus Marham: NU Harus Berani Tentukan Arah Perubahan
JAKARTA - Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, mantan Menteri Sosial Idrus Marham meluncurkan buku berjudul Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban di Hotel Novotel, Jakarta Pusat, Senin (24/8).
Buku tersebut memuat refleksi mengenai posisi dan peran strategis NU dalam menghadapi tantangan zaman, merawat peradaban, serta meneguhkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin bagi masa depan bangsa dan umat manusia.
Peluncuran buku dihadiri sejumlah tokoh agama, akademisi, kader organisasi, generasi muda, serta masyarakat umum.
Idrus mengatakan, buku tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus refleksinya terhadap berbagai tantangan yang dihadapi umat, bangsa, dan peradaban di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.
Menurutnya, NU tidak hanya memiliki sejarah panjang dalam menjaga kehidupan keagamaan dan kebangsaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
“Buku ini merupakan refleksi tentang bagaimana Nahdlatul Ulama dapat terus memainkan peran strategis dalam menghadapi tantangan zaman. NU memiliki modal sejarah, tradisi keilmuan, dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin yang sangat relevan untuk menjawab persoalan masa depan,” kata Idrus.
Dia menilai tantangan peradaban saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat menjadi persoalan yang membutuhkan respons serius.
Karena itu, Idrus menegaskan, NU tidak cukup hanya menjadi pihak yang merespons perubahan. Menurutnya, NU harus mampu mengambil peran dalam membentuk sekaligus menentukan arah perubahan agar tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan kemaslahatan.
Menjelang Muktamar NU ke-35 yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27-31 Agustus 2026, Idrus turut menyoroti dinamika di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Idrus, yang juga Anggota MPO PB IKA PMII, menilai sejumlah elite PBNU menunjukkan sikap pragmatis menjelang pemilihan ketua umum. Bahkan, dia menyebut perilaku sebagian pengurus NU secara personal sudah menyerupai praktik politik yang biasa dilakukan kalangan partai.
“Akhir-akhir ini, kita lihat pengurus NU secara personal itu sikap perilakunya melebihi sikap politik dari orang partai itu sendiri,” ujarnya.
Idrus berharap kepengurusan PBNU periode 2026-2031 nantinya lebih banyak diisi sosok yang memiliki semangat tajdidiyah atau pembaruan, dibandingkan kecenderungan ashabiyah maupun wasathiyah.
Menurut dia, semangat pembaruan diperlukan agar NU mampu melahirkan gagasan-gagasan inovatif yang dapat menjadi pijakan dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Sehingga lahirlah pemikiran-pemikiran inovatif yang menjadi dasar untuk melakukan peran dalam rangka menentukan pembentukan peradaban ke depan. Saya kira ini yang diinginkan,” tandasnya.
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu








