Panduan Aman Berpuasa bagi Penyandang Diabetes
SERPONG — Ibadah puasa di bulan Ramadan bukan sekadar kewajiban spiritual, melainkan dapat menjadi momentum untuk memperbaiki metabolisme tubuh, termasuk bagi penyandang diabetes atau diabetesi. Meski demikian, pengelolaan pola makan dan pengawasan medis yang ketat menjadi syarat mutlak agar manfaat kesehatan dapat tercapai tanpa risiko komplikasi yang membahayakan nyawa.
Diabetes merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah akibat gangguan produksi atau fungsi insulin. Bagi diabetesi, tantangan utama saat berpuasa adalah menjaga stabilitas gula darah guna menghindari dua kondisi ekstrem: hipoglikemia (penurunan gula darah drastis di bawah 70 mg/dL) dan hiperglikemia (lonjakan gula darah akibat asupan karbohidrat berlebih saat berbuka).
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes Eka Hospital BSD, Prof. dr. Hari Hendarto, Sp.PD-KEMD, menyatakan bahwa mayoritas penyandang diabetes tipe 2 dengan kadar gula terkontrol diperbolehkan berpuasa. Namun, keputusan tersebut harus didasarkan pada penilaian klinis dokter.
"Pasien dengan risiko sangat tinggi, seperti penyandang diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol, pasien gagal ginjal, atau ibu hamil, memerlukan perhatian khusus. Pemeriksaan kesehatan setidaknya 2-4 minggu sebelum Ramadan sangat dianjurkan," ujar Hari dalam keterangannya.
Momentum Perbaikan Sel
Jika dijalankan dengan pola yang benar, puasa memberikan dampak positif bagi sistem hormonal. Salah satu manfaat utamanya adalah meningkatkan sensitivitas insulin, yang membuat sel-sel tubuh lebih peka dalam mengelola gula darah.
Selain itu, puasa berperan dalam kontrol berat badan dan pengurangan lemak visceral. Dalam jangka panjang, hal ini berkontribusi pada perbaikan HbA1c (rata-rata kadar gula darah dalam tiga bulan) serta menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular melalui perbaikan profil kolesterol dan tekanan darah.
Manajemen Nutrisi dan Pemantauan
Keberhasilan puasa bagi diabetesi sangat bergantung pada apa yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka. Hari menekankan pentingnya karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau gandum saat sahur untuk menjaga ketersediaan energi lebih lama. Sebaliknya, saat berbuka, diabetesi diminta menghindari perilaku "balas dendam".
"Mulailah dengan air putih dan maksimal tiga butir kurma. Hindari gorengan dan kolak manis berlebihan. Makanlah secara bertahap agar pankreas tidak terbebani secara mendadak," tambahnya.
Beberapa poin krusial yang harus diperhatikan diabetesi selama menjalankan ibadah puasa antara lain:
• Pemantauan Mandiri: Mengecek kadar gula darah secara rutin pada pagi, siang, dan sore hari. Secara medis dan agama, tes darah jari tidak membatalkan puasa.
• Hidrasi: Menerapkan pola minum 2-4-2 (dua gelas saat berbuka, empat gelas sepanjang malam, dan dua gelas saat sahur) untuk mencegah dehidrasi.
• Disiplin Medis: Tidak mengubah dosis obat atau insulin tanpa instruksi dokter. Biasanya, dokter akan menyesuaikan dosis untuk mencegah hipoglikemia di siang hari.
Kapan Harus Berhenti?
Keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas utama. Para ahli medis sepakat bahwa diabetesi harus segera membatalkan puasa jika kadar gula darah berada di bawah 70 mg/dL atau melonjak melampaui 300 mg/dL. Gejala seperti pusing, gemetar, dan lemas yang luar biasa merupakan sinyal tubuh yang tidak boleh diabaikan.
Pada akhirnya, Ramadan dapat menjadi ajang transisi menuju pola hidup yang lebih sehat bagi diabetesi, asalkan dilakukan di bawah pengawasan medis yang kompeten.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Internasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu



