Indeks Ambruk, Rupiah Tertekan Daya Tahan Ekonomi Diuji, Pemerintah Diminta Siaga
JAKARTA - Belum genap sepekan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas, dampaknya langsung terasa ke pasar keuangan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk tajam, sementara nilai tukar rupiah ikut tertekan.
Pada perdagangan Rabu (4/3/2026), IHSG ditutup merosot 362,70 poin atau turun 4,57 persen ke level 7.557,06. Indeks LQ45 juga melemah 4,19 persen. Sejak pembukaan, tekanan sudah terasa dengan penurunan 43,38 poin (0,55 persen) ke posisi 7.896. Hingga penutupan sesi I, IHSG terkoreksi 343,20 poin atau 4,32 persen ke level 7.596,57.
Tekanan serupa terjadi di pasar valuta asing. Rupiah ditutup melemah 20 poin ke posisi Rp16.892 per dolar AS. Bahkan sejak awal perdagangan, mata uang Garuda sudah terdepresiasi 0,32 persen ke level Rp16.926 per dolar AS.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, menegaskan pelemahan IHSG tidak terlepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar mencemaskan potensi gangguan rantai pasok global, terutama sektor energi, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
“Pergerakan IHSG sejalan dengan indeks regional lain yang juga terkoreksi tajam,” ujarnya di Jakarta. Bursa Asia seperti Kospi, SET Index, Kosdaq, Nikkei 225, TAIEX, dan ASX 200 turut melemah. Bursa Korea Selatan bahkan sempat mengalami trading halt setelah anjlok lebih dari 8 persen.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai secara teknikal IHSG tengah berada dalam fase minor bearish. Indikator MA20 dan MA60 membentuk pola bearish crossover, sementara Stochastic K-D dan RSI menunjukkan sinyal negatif yang diperkuat penurunan volume transaksi.
Menurutnya, konflik Iran versus Israel-AS berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan memicu inflasi global. Sentimen risk-off—yakni peralihan dana ke aset aman—diperkirakan masih berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar.
“Jika konflik berkepanjangan, ongkos logistik bisa melonjak dan peluang ekspor Indonesia ikut tertekan,” ujarnya.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Nilai tukar bahkan berpotensi menembus Rp17.000 per dolar AS dalam waktu dekat, dan bisa mencapai Rp17.400 per dolar AS hingga akhir tahun.
Ketegangan di kawasan Teluk disebut memperburuk infrastruktur energi. Ratusan kapal tanker dilaporkan tertahan akibat penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Direktur NEXT Indonesia, Herry Gunawan, menilai risiko terburuk dari pelemahan IHSG dan rupiah adalah meningkatnya persepsi negatif terhadap Indonesia sebagai destinasi investasi. Namun ia menegaskan, gejolak ini lebih dipicu faktor eksternal.
“Dampaknya terasa di seluruh Asia. Bukan hanya Indonesia,” katanya.
Investor, lanjut Herry, cenderung memindahkan dana ke instrumen berisiko rendah seperti emas dan surat berharga negara untuk mengamankan portofolio di tengah ketidakpastian.
Meski demikian, dari sisi fiskal pemerintah dinilai masih memiliki ruang yang cukup. Herry menyebut langkah front loading penerbitan surat utang pada Februari menjadi strategi antisipatif yang tepat.
“Jika diterbitkan saat risiko meningkat seperti sekarang, biayanya tentu lebih mahal,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekitar 80 persen perekonomian nasional ditopang konsumsi domestik dan investasi dalam negeri, sehingga fundamental Indonesia relatif kuat menghadapi guncangan eksternal. Namun, pemerintah tetap diminta menjaga iklim usaha tetap kondusif dan memprioritaskan belanja negara untuk menopang konsumsi serta menyiapkan stimulus bila diperlukan.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ketahanan fiskal Indonesia masih terjaga. Berdasarkan simulasi Kementerian Keuangan, konflik berkepanjangan di Timur Tengah tidak serta-merta mendorong defisit APBN melebar, termasuk untuk menanggung potensi kenaikan subsidi BBM akibat lonjakan harga minyak.
Di tengah gejolak global, daya tahan ekonomi nasional kini benar-benar diuji. Stabilitas fiskal, kekuatan konsumsi domestik, serta respons kebijakan yang cepat dan terukur akan menjadi kunci agar Indonesia tetap mampu bertahan di tengah badai ketidakpastian.
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu



