Kiai Jazuli dan Jalan Transformasi Mathla’ul Anwar
SUATU sore yang teduh, Kiai Embay Mulya Syarief berkisah dengan nada pelan tenang, namun menyisakan gema panjang. “Rumah Kiai Jazuli itu pernah ditembaki,” katanya. Kalimat itu sederhana, tetapi tidak ringan. Bukan hanya cerita tentang sebuah peristiwa, melainkan tentang harga dari sebuah keberanian.
Kiai Jazuli Juwaini yang dikenal vokal membela ulama pernah mengalami teror. Peluru menembus jendela kamar anaknya. Beruntung, kamar itu kosong. Tidak ada korban jiwa. Namun peristiwa itu meninggalkan satu pesan yang tak terbantahkan: bahwa dalam membela nilai, selalu ada risiko yang menyertainya. Dari titik itulah, saya melihat Kiai Jazuli bukan hanya figur organisasi, melainkan manusia yang ditempa oleh ujian.
Amanah Sejarah
Waktu berjalan. Ujian berlalu. Namun karakter tetap tinggal. Ketika Muktamar XXI Mathla’ul Anwar menetapkan Kiai Jazuli Juwaini sebagai Ketua Umum PBMA periode 2026–2031, saya melihat sesuatu yang lebih dari hasil pemilihan. Ini adalah akumulasi kepercayaan. Prosesnya tidak mudah demokratis, dinamis, bahkan ketat. Namun justru di situlah nilai kepemimpinan menemukan maknanya: dipilih melalui proses, bukan ditentukan oleh kekuasaan. Muktamar bukan hanya forum organisasi. Ia adalah ruang peradaban, tempat nilai diuji dan arah ditentukan.
Membaca Gagasan Kiai Jazuli
Yang menarik, Kiai Jazuli tidak berhenti pada kemenangan. Ia segera berbicara tentang arah. Dalam tulisannya “MA Naik Level: Ikhtiar Menggerakkan Mathla’ul Anwar ke Masa Depan” tercermin sesuatu yang langka: kejujuran niat dan kejernihan visi. Ia menegaskan sejak awal: bahwa jabatan ini bukan hanya soal posisi, melainkan tanggung jawab sejarah.
Di tengah zaman yang kerap terjebak pada simbol dan posisi, pernyataan ini terasa jernih dan mendalam. Lebih jauh, ia mengingatkan dengan kalimat sederhana namun mengguncang: “Jangan mencari hidup dari MA, tetapi mari kita hidup untuk MA.”
Di tengah kultur yang semakin transaksional, kalimat ini bukan hanya ajakan melainkan koreksi moral. Ia menegaskan bahwa organisasi bukan alat, melainkan ruang pengabdian. Dan dari situlah fondasi peradaban dibangun.
Lompatan Peradaban
Kiai Jazuli tidak menafikan sejarah. Namun, ia juga tidak ingin terjebak di dalamnya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Mathla’ul Anwar memiliki fondasi besar—ribuan lembaga pendidikan, jaringan yang luas, serta warisan panjang yang telah teruji oleh waktu.Tetapi ia juga jujur pada satu kenyataan yang tak bisa dihindari: bahwa kebanggaan masa lalu saja tidak cukup untuk menjawab tantangan masa depan.
Dari kesadaran itulah, ia menawarkan satu gagasan kunci: “MA Naik Level.” Bukan slogan saja, melainkan arah transformasi.
Transformasi yang digagas itu tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan menjangkau dimensi-dimensi strategis yang menentukan masa depan organisasi. Pendidikan, misalnya, tidak lagi cukup berjalan apa adanya, tetapi harus didorong menjadi lebih unggul dan adaptif terhadap perubahan zaman yang kian cepat dan kompleks. Di saat yang sama, kaderisasi tidak boleh berhenti pada rutinitas administratif, melainkan harus mampu menembus ruang-ruang strategis, melahirkan kader yang hadir dan berperan nyata dalam menentukan arah bangsa.
Dakwah pun tidak lagi cukup disampaikan dalam kerangka normatif semata. Ia harus hadir lebih dekat dengan denyut kehidupan masyarakat, menyentuh persoalan konkret, dan menjawab kebutuhan umat secara relevan. Dalam konteks ini, teknologi bukan lagi sesuatu yang perlu dicurigai, melainkan peluang besar yang harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dan memperkuat daya pengaruh gerakan.
Sementara itu, peran sosial Mathla’ul Anwar dituntut untuk benar-benar terasa, bukan hanya soal simbolik, tetapi hadir sebagai solusi nyata di tengah dinamika ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.
Ada satu kesadaran yang menjadi titik temu dari seluruh gagasan itu: bahwa tidak ada perubahan besar yang dapat diwujudkan secara sendirian. Karena itu, kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Dan di titik inilah, “MA Naik Level” menemukan maknanya sebagai ikhtiar kolektif untuk melompat, bukan hanya maju selangkah, tetapi naik kelas dalam skala peradaban.
Gelombang Baru Ormas Islam
Apa yang dilakukan Kiai Jazuli bukanlah fenomena tunggal. Ia bagian dari gelombang besar yang sedang bergerak dalam tubuh ormas Islam Indonesia. Hari ini, NU dan Muhammadiyah menunjukkan energi baru lebih progresif, adaptif, dan berani membaca zaman. Di NU, hadir generasi muda seperti Gus Awis, Gus Savic Ali, Gus Baha, Gus Ulil, dan lainnya yang tetap berakar pada tradisi, namun terbuka pada modernitas. Di Muhammadiyah, figur seperti Ustaz Adi Hidayat, Fajar Riza Ul Haq, Dahnil Anzar Simanjuntak, hingga Ahmad Najib Burhani menunjukkan kekuatan gagasan sekaligus aksi.
Ini bukan soal regenerasi saja. Ini adalah reorientasi gerakan Islam Indonesia. Yang menarik, perubahan ini tidak menyingkirkan para senior. Justru terjadi keseimbangan yang sehat:
yang muda bergerak, yang tua membimbing. Di sinilah kesinambungan terjaga dan kekuatan dibangun. Ormas Islam tidak hanya menjadi organisasi, tetapi ruang pembelajaran peradaban tempat nilai, gagasan, dan strategi bertemu. Dalam arus ini, Mathla’ul Anwar menemukan momentumnya. Di bawah kepemimpinan Kiai Jazuli Juwaini dan Kiai Embay Mulya Syarief, Mathla’ul Anwar tidak lagi di pinggiran, tetapi mulai masuk dalam pusaran perubahan.
Pesannya jelas: masa depan ormas Islam tidak ditentukan oleh besarnya warisan, tetapi oleh keberanian membaca dan menjawab zaman. Perubahan besar lahir dari keberanian bergerak—tanpa kehilangan akar.
Apresiasi yang Menjaga Proses
Muktamar bukan semata tentang siapa yang terpilih. Ia adalah cermin dari kerja kolektif yang panjang, teratur, dan penuh makna. Di balik keputusan yang lahir, ada kerja-kerja yang kerap tak terlihat: panitia yang bekerja tanpa sorot lampu, relawan yang menjaga setiap detail, serta tim yang memastikan dinamika tetap berjalan dalam koridor yang sehat. Mereka mungkin tidak tampil di depan, tetapi justru di sanalah fondasi proses dibangun.
Forum yang tertib, aman, dan kondusif bukan kebetulan. Itu hasil dari manajemen yang matang dan komunikasi yang terjaga. Di situ, organisasi menunjukkan kedewasaannya bahwa perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan, dan dinamika tetap punya arah. Justru dalam situasi itulah kualitas organisasi diuji: saat perbedaan hadir, namun tetap dikelola dengan tenang, dewasa, dan konstruktif. Dan selalu ada mereka yang bekerja dalam diam tanpa nama, tanpa sorotan. Dari tangan-tangan itulah proses besar menemukan bentuknya.
Di sanalah kehormatan sejati: bekerja tanpa perlu tepuk tangan. Apresiasi kepada mereka bukan hanya soal penghargaan, tetapi pengakuan bahwa organisasi dibangun oleh kerja bersama, oleh dedikasi yang tulus. Muktamar tidak hanya melahirkan pemimpin. Ia menegaskan satu hal penting: bahwa kekuatan organisasi terletak pada kemampuannya menjaga proses. Dan selama proses itu terjaga, harapan akan selalu menemukan jalannya. Dan bahwa organisasi besar tidak dibangun oleh slogan, melainkan oleh keteguhan, visi, dan kerja bersama.
Hari ini, Kiai Jazuli Juwaini tidak hanya memimpin semata ia membawa arah bagi Mathla’ul Anwar. Mathla’ul Anwar tidak cukup hanya bertahan, ia harus naik level. Perjalanan ini baru dimulai. Bukan kerja satu orang, bukan pula satu periode, melainkan ikhtiar panjang kerja kolektif Mathla’ul Anwar untuk menghadirkan makna yang lebih besar bagi umat dan bangsa. Karena pada akhirnya, Mathla’ul Anwar tidak diukur dari sejarahnya, melainkan dari kemampuannya menjawab masa depan.(*)
*) Penulis seorang akademisi dengan jabatan struktural Wakil Dekan FISIP Universitas Mathla’ul Anwar Banten.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu



