TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Indeks

Dewan Pers SinPo

Garap Proyek MRT Dan LRT

Menhub Rayu Negeri Ginseng

Laporan: AY
Rabu, 19 Oktober 2022 | 08:54 WIB
Menhub Budi Karya Sumadi. (Ist)
Menhub Budi Karya Sumadi. (Ist)

JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merayu Korea Selatan (Korsel) agar menanamkan investasinya dalam pengembangan infrastruktur transportasi di Indonesia.

Ada tiga proyek yang ditawar­kan, yaitu Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Fase 4, Light Rail Transit (LRT) Jakarta dan LRT Bali.

Tawaran ini disampaikan Menteri Perhubungan (Men­hub) Budi Karya Sumadi ke­pada delegasi Negeri Ginseng di sela-sela 28th ASEAN Transport Minister Meeting yang digelar di Bali, kemarin.

“Kami sangat berharap Kor­sel dapat berpartisipasi dalam pengembangan MRT Jakarta Fase 4. Dan mengulang kerja sama baik yang pernah terjalin sebelumnya pada pengembangan LRT Jakarta fase pertama,” kata BKS-sapaan akrab Budi Karya Sumadi, dalam keterangan resminya, kemarin.

Menindaklanjuti hal tersebut, Direktorat Jenderal Perkere­taapian Kemenhub langsung menggelar rapat dengan K-Consorsium di Jakarta.

K-Consorsium merupakan kon­sorsium Korsel yang dibuat untuk menindaklanjuti usulan pembangunan MRT Jakarta Fase 4.

Direktur Lalu Lintas dan Ang­kutan Kereta Api Risal Wasal mengatakan, MRT Jakarta Fase 4 akan dibangun dengan koridor Timur-Barat. Rencananya, pem­bangunan akan diintegrasikan dengan koridor Utara-Selatan yang sudah lebih dulu berdiri.

Risal mengungkapkan, setidaknya ada tiga usulan yang dikaji pada kajian awal MRT Jakarta Fase 4.

Opsi pertama, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang sampai Jakarta International Sta­dium (JIS) di Jakarta Utara.

Opsi kedua dari Pondok Gede, Jakarta Timur sampai Joglo, Jakarta Barat. Kemudian opsi ke­tiga Taman Mini Indonesia Indah atau TMII, Jakarta Timur sampai Fatmawati, Jakarta Selatan.

Risal menjelaskan, masing-masing usulan opsi lintas tersebut memiliki potensi dan kendalanya.

Meski begitu, dia menyampai­kan, kajian awal telah dilakukan berbagai pihak. Kajian awal ini untuk menyepakati opsi lintas yang akan ditawarkan kepada Korsel.

"Berdasarkan kajian Multi-Cri­teria Analysis yang telah dilaku­kan, lintas yang paling memung­kinkan dibangun adalah lintas Fatmawati-TMII,” tuturnya.

Risal meyakinkan, lintas Fat­mawati-TMII memiliki ham­batan paling sedikit dan me­lewati banyak pusat kegiatan masyarakat.

Dengan demikian, dia ber­harap, lintas itu dapat mengang­kut lebih banyak orang dibandingkan opsi lintas lainnya.

Rencananya, kata Risal, MRT Jakarta Fase 4 untuk lintas Fatma­wati-TMII ini akan dibangun se­cara melayang dan bawah tanah.

“Koridor Fatmawati-TMII memiliki persentase jalan sempit sebanyak 31 persen. Jika dibangun secara melayang seutuhnya, akan memakan banyak sekali badan jalan,” ujarnya.

Selain mengajak Korsel ber­investasi, BKS juga mengambil peran besar dalam perjanjian hubungan udara antara ASEAN dengan Uni Eropa, dalam per­temuan tingkat Menteri Trans­portasi se-ASEAN atau 28th ASEAN Transport Ministers Meeting di Bali.

Eks Dirut Angkasa Pura ll ini menuturkan, perjanjian yang sudah dibahas sejak 10 tahun lalu itu, akhirnya bisa disepakati ketika Indonesia menjadi tuan rumah.

Perjanjian hubungan udara ASEAN-Uni Eropa atau ASEAN European Union Comprehensive Air Transport Agreement (CATA), menjadi perjanjian hubungan udara antarregional pertama di dunia, dan menjadi tonggak seja­rah penerbangan dunia.

Melalui kesepakatan ini, tidak hanya tentang pertukaran hak angkut lalu lintas antara kedua regional. Tapi juga kerja sama yang lebih komprehensif terkait keselamatan dan keamanan penerbangan, manajemen lalu lintas udara, perlindungan konsumen, serta isu sosial dan lingkungan.

Kesepakatan ini juga menandai peringatan 45 tahun hubungan kerja sama ASEAN-Uni Eropa.

Kedua kawasan regional ASE­AN dan Uni Eropa, memiliki total 37 negara. ASEAN memiliki 10 negara anggota dan Uni Eropa memiliki 27 negara anggota.

“Disepakatinya perjanjian hubungan udara dengan Uni Eropa menunjukkan kawasan ASEAN memiliki posisi strate­gis, dan sangat diperhitungkan di mata internasional,” ujar BKS.

Di tengah persaingan antarne­gara dan antarbenua yang se­makin kompetitif, BKS ber­harap, negara-negara anggota ASEAN memiliki solidaritas yang tinggi. Bisa saling mem­bantu dan menguatkan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo