Teheran Ajukan Tiga Syarat Perdamaian dalam Konflik dengan AS dan Israel
IRAN – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengemukakan sejumlah persyaratan utama untuk mengakhiri konflik bersenjata yang tengah berlangsung antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlanjutnya serangan udara yang menargetkan berbagai wilayah strategis di Iran.
Melalui akun media sosial X miliknya, Kamis (12/3/2026), Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap membuka peluang bagi terciptanya perdamaian di kawasan.
“Dalam percakapan dengan para pemimpin Rusia dan Pakistan, saya menegaskan kembali komitmen Iran terhadap stabilitas dan perdamaian di kawasan,” tulis Pezeshkian.
Ia kemudian menyampaikan tiga syarat utama yang menurutnya harus dipenuhi agar konflik dapat dihentikan. Pertama, pengakuan internasional terhadap hak-hak sah Iran. Kedua, pembayaran kompensasi atas kerusakan infrastruktur yang terjadi akibat serangan udara. Ketiga, adanya jaminan internasional yang memastikan Iran tidak lagi menjadi sasaran serangan dari United States maupun Israel di masa depan.
Menurut Pezeshkian, langkah tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik yang ia sebut dipicu oleh agresi dari kedua negara tersebut.
Pernyataan ini disampaikan setelah ia melakukan pembicaraan via telepon secara terpisah dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, serta Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kini telah memasuki hari ke-12. Ketegangan meningkat sejak serangan udara yang mengguncang Teheran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan sejumlah rudal yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta wilayah sekitar Tel Aviv.
Dampak konflik tersebut turut memicu gejolak pada pasar energi global. Ketegangan semakin meningkat setelah Iran menutup jalur pelayaran di Strait of Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Akibatnya, harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil melonjak hingga melampaui 100 dolar AS per barel. Jika situasi ini terus berlanjut, para analis memperkirakan harga energi dunia akan tetap berfluktuasi dan berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi global.
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu



