Makna Hari Kartini Bagi Para Srikandi Pemkot Tangsel
SERPONG-Peringatan Hari Kartini menjadi momentum refleksi bagi para pejabat perempuan di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel). Di balik layar pemerintahan, para srikandi ini tak hanya menjalankan tugas birokrasi, tetapi juga mengemban peran strategis sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, contohnya. Ia memaknai Hari Kartini sebagai simbol perjuangan kesetaraan perempuan, termasuk dalam memperoleh akses layanan dasar seperti kesehatan.
Menurutnya, perempuan harus memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan informasi dan layanan kesehatan, sekaligus berperan sebagai agen perubahan dalam membentuk perilaku hidup sehat di lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Perempuan harus memiliki akses yang setara, termasuk dalam layanan kesehatan. Mereka juga bisa menjadi agen perubahan untuk mendorong perilaku hidup sehat, sehingga kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat semakin meningkat,” ujarnya, Senin (20/4).
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai Kartini diterapkannya melalui kesetaraan peran, baik di keluarga maupun di lingkungan kerja. Ia menekankan, pentingnya ruang yang sama bagi perempuan untuk berkembang.
“Di keluarga, semua memiliki peran setara, mulai dari pekerjaan rumah hingga menyampaikan pendapat. Di tempat kerja, saya menerapkan kesetaraan dan keteladanan. Sebagai kepala dinas, saya memastikan layanan kesehatan, khususnya ibu dan anak, deteksi kanker, hingga penanganan stunting berjalan optimal, sekaligus memberi ruang bagi perempuan untuk berkembang,” jelasnya.
Ia juga menegaskan, pentingnya pendidikan tinggi bagi perempuan sebagai bekal menghadapi tantangan zaman. “Perempuan harus mandiri dan memiliki kompetensi. Ibu yang berpendidikan akan melahirkan generasi hebat, karena mampu mendidik dan mengawal masa depan anak-anaknya,” tambahnya.
Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kota Tangsel, Indri Sari Yuniandri menilai, perempuan masa kini dituntut mampu menyeimbangkan peran di rumah dan di tempat kerja.
“Perempuan yang bekerja harus bisa menyeimbangkan perannya sebagai ibu, istri, sekaligus pegawai. Kuncinya adalah mandiri dan terus belajar,” katanya.
Indri menekankan, pentingnya memperluas wawasan, baik melalui pendidikan formal maupun kebiasaan membaca dan mencari informasi positif.
“Perempuan harus punya wawasan luas. Tidak harus selalu sekolah tinggi, tapi harus mau belajar. Jangan hanya sibuk hal yang tidak produktif, perbanyak membaca atau mencari informasi yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia pun berpesan agar perempuan, khususnya di Tangsel, terus meningkatkan kapasitas diri. “Tingkatkan wawasan dan jadilah perempuan yang mandiri,” pesannya.
Sekretaris DP3AP2KB Kota Tangsel, Enji Seppraliana menilai, semangat RA Kartini tercermin dari perempuan yang berdaya dan mampu berkarya.
Menurutnya, peran perempuan sangat penting dalam menjaga ketahanan keluarga, baik dari sisi kesehatan fisik maupun psikis, serta dalam memastikan akses pendidikan bagi anak.
“Perempuan harus mampu menjaga keseimbangan dalam keluarga, mulai dari kesehatan hingga pendidikan anak. Di situlah peran strategis perempuan dalam membangun generasi,” katanya.
Ia juga menegaskan, bahwa pendidikan tinggi menjadi kebutuhan penting bagi perempuan di era saat ini. “Perempuan perlu terus belajar agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tetap semangat, tangguh, dan terus berkarya,” ujarnya.
Sementara, Direktur Utama Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Tangsel, Umi Kulsum memandang, Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April sebagai refleksi peran perempuan dalam pembangunan bangsa.
“Tema yang relevan saat ini adalah perempuan berdaya sebagai pilar kemajuan bangsa. Semangat Kartini bukan hanya tentang emansipasi, tetapi juga keberanian perempuan untuk berkontribusi nyata di berbagai bidang,” ungkapnya.
Dalam kesehariannya, ia menerapkan nilai kesetaraan dan kolaborasi, baik di keluarga maupun dalam memimpin rumah sakit.
“Perempuan tidak harus memilih antara karier atau keluarga. Keduanya bisa berjalan beriringan dengan komunikasi dan kerja sama yang baik,” jelasnya.
Umi juga menegaskan bahwa pendidikan tinggi menjadi kunci penting bagi perempuan untuk berkembang. “Pendidikan membuka wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir, dan memperkuat kemandirian perempuan agar mampu bersaing dan berinovasi,” katanya.
Ia pun berpesan agar perempuan di Tangsel terus percaya diri dan berani bermimpi besar. “Teruslah belajar, percaya pada kemampuan diri, dan jangan takut bermimpi besar. Perempuan bisa menjadi apa pun yang dicita-citakan, selama mau berusaha dan konsisten,” tandasnya.
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu



