Bersiap Hadapi Krisis Global
SERPONG - Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran diperkirakan bakal berlangsung panjang dan meluas. Perang ini akan berdampak buruk pada pasokan minyak bumi, gas, pupuk serta komoditas pangan antar negara dan antar benua. Ini semua bisa memicu krisis global.
Setelah Selat Hormuz ditutup awal pekan ini, pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah langsung terganggu. Begitu pula pasokan pupuk dan komoditas pangan yang biasa dikirim melalui selat tersebut, langsung terhenti.
Akibatnya, harga minyak dan gas di pasar internasional meroket. Bahkan, diprediksi bisa naik hingga di atas 100 dolar AS per barel. Ini secara langsung akan memukul negara-negara pengimpor minyak.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel, berpotensi memperlebar defisit APBN hingga Rp 6,8 triliun.
Kalau kemudian harga minyak naik 15 hingga 25 dolar AS per barel, maka anggaran subsidi energi di APBN akan membengkak.
Lebih memprihatinkan lagi, akibat ditutupnya Selat Hormuz, harga komoditas ikut terkerek. Ini bisa menyebabkan naiknya inflasi serta menekan neraca perdagangan Indonesia.
Eskalasi konflik di Timur Tengah juga berdampak langsung pada industri petrokimia. Sebab, 70 persen pasokan bahan baku industri petrokimia nasional selama ini berasal dari Timur Tengah. Kalau konfliknya berkepanjangan, industri petrokimia bisa berhenti beroperasi.
Untuk itu, kita berharap, pemerintah dan dunia usaha duduk bersama mencari solusi agar industri yang membutuhkan bahan baku impor dari Timur Tengah tidak mati suri. Apakah ada sumber bahan baku dari kawasan lain atau mencari bahan baku alternatif.
Kita juga berharap, ke depan ini tak terjadi kekurangan pasokan minyak mentah untuk kilang di dalam negeri. Untuk itu, upaya mencari minyak dari kawasan lain harus secepatnya dilakukan.
Kita berharap, para petinggi negeri ini yang menangani urusan fiskal dan moneter terus mencermati dampak negatif memanasnya konflik di Timur Tengah. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi apabila konflik meluas, mesti diantisipasi sejak dini.
Kita tidak ingin konflik di Timur Tengah menekan pertumbuhan ekonomi dan membuat rakyat negeri ini menderita. Untuk itu, para menteri mesti berpikir keras mencari solusi terbaik agar tidak ada industri yang kolaps, sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) besar-besaran.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 9 jam yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 11 jam yang lalu


